Tampilkan postingan dengan label How To Train. Tampilkan semua postingan
Sebenarnya cukup
banyak Cara membedakan jenis kelamin pada Burung Hantu, setiap metode
pasti memiliki kelebihan
dan kekurangannya
tersendiri. Berikut beberapa metode untuk membedakan jenis kelamin
burung jantan & betina.
1. Meode Pengamatan
*Pengamatan
Fisik
Metode yang paling mudah adalah dengan melakukan pengamatan tampilan fisik
si burung. Beberapa
jenis burung memiliki corak tampilan yang sangat berbeda antara jantan dan
betina, namun sayangnya sebagian besar burung pemangsa memiliki corak yang
similar antara jantan dan betina. Sebagai contoh, banyak yang
mengatakan bedanya Barn Owl (Tyto Alba) jantan dan betina ada pada warna bulu
dadanya. Jika Barn Owl tersebut jantan, maka warna bulu dada dominan berwana
Putih dan pada burung betina warna bulu dada dominan Coklat. Namun hal tersebut
belum tentu benar 100%, karena bisa saja perbedaan warna tersebut dipengaruhi
oleh cuaca dan iklim lingkungan sekitar atau memang ada bawaan dari gen
sebelumnya.
Metode yang lain adalah dengan melihat ukuran tubuh. Ukuran tubuh burung betina biasanya
cenderung lebih besar dibandingkan burung jantan. Metode ini menjadi susah ketika kita
hanya memiliki seekor burung sehingga tidak memiliki burung lain sebagai
pembanding. metode ini juga kurang bisa memberi jawaban pasti karena ukuran
tidak serta merta dipengaruhi oleh jenis kelamin, akan tetapi juga dipengaruhi
gen sebelumnya, kecukupan nutrisi, serta penyakit yang diderita burung. Namun
metode ini bisa cukup efektif apabila anda mengadopsi burung dalam satu sarang,
lebih bagus lagi jika terdapat induknya juga.
*Pengamatan
Perilaku
Melakukan pengamatan perilaku (behavioral identification), umunya
dilakukan oleh pengamat atau peneliti burung di alam liar. hipotesa umum dari
metode ini bahwa burung jantan cenderung lebih aktif dan memiliki mobilitas
yang tinggi, sedangkan burung betina cenderung lebih tenang. Burung jantan cenderung lebih aktif karena secara hierarki gender, dia harus menjaga wilayah dengan
cara bersuara memekik sebagai bentuk gertakan atau menghalau penyusup yang coba
mengganggu wilayah teritorialnya. Perilaku lebih aktif juga ditunjukkan burung jantan sebagai upaya untuk menarik perhatian burung betina saat
tiba musim kawin,
sedangkan burung betina lebih bersikap menunggu impuls dari jantan baru kemudian akan memberi respon. Kekurangan metode ini tidak bisa
memberikan jawaban yang meyakinkan jika burung pemangsa yang kita pelihara
tidak di alam liar.
*Metode Supit Urang
Tentu bagi
penghobi burung (terutama burung merpati) sudah tidak asing lagi dengan metode
ini. Yap! Metode ini bisa dilakukan dengan meraba pada supit urang (tulang pubis)
si burung. Metode
ini cukup efektif karena
instrumen yang digunakan adalah anatomi dari burung itu sendiri, bukan hanya dari pengamatan
tampilan dan ukuran. Metode ini dinamakan metode palpasi supit urang. Palpasi pada supit merupakan teknik perabaan dengan jari tangan kita
ke bagian supit urang (tulang pubis) burung. Tulang supit urang berada di ujung
anus (lihat ilustrasi
gambar berikut).
![]() |
| (infovisual.info) |
Jika
jarak antara kedua supit urang renggang dan tulangnya terasa seperti tulang
rawan (lunak dan cenderung dinamis) burung tersebut adalah burung betina,
Sebaliknya pada bagian supit urang jantan jarak antara kedua supit urang lebih
rapat dan terasa lebih kaku, bahkan terasa tajam ketika diraba. Kekurangannya, metode ini baru bisa 100% akurat
ketika burung telah menginjak usia remaja, dan akan sangat kentara ketika
burung berada pada tahap birahi (breeding session).
2. Metode Tes DNA
Metode ini adalah metode paling akurat
untuk membedakan jenis kelamin pada burung. Karena metode ini dilakukan melalui
uji laboratorium dengan cara mengambil sampel dari si burung, pada umunya
sampel yang diambil diantaranya darah, bulu, kotoran, dan bahkan air liur. Metode
ini sangat direkomendasikan terutama untuk membedakan burung yang secara fisik
dan tampilan antara jantan dan betina tidak ada perbedaannya, burung-burung
tersebut biasanya dari jenis paruh bengkok (parbeng) seperti : Sun Conure, Macaw, African Grey, dan jenis paruh bengkok lainnya. Biaya tes DNA
pada burung sendiri bermacam-macam, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan
rupiah.
![]() |
| Sun Conure (singing-wings-aviary.com) |
![]() |
| Macaw (pinterest.com) |
![]() |
| African Grey (parrotfeather.com) |
Itulah beberapa Cara membedakan jenis kelamin pada Burung Hantu semoga bermanfaat dan
membantu. Salam Nokturnal :)
Diadaptasi dari:
awfalconry.com (dengan perubahan dan penambahan)
Cara membedakan jenis kelamin pada Burung Hantu
Tahapan cara melatih Burung Hantu harus diketahui oleh para pecinta burung hantu, agar burung hantu miliknya tidak
manja dan melatih insting berburunya agar tidak hilang. Berikut adalah Tahapan cara melatih Burung Hantu.
- Langkah pra-trainig, yaitu burung hantu yang baru diadopsi baik dari umur chick, brancher, juvennile, ataupun sudah mature sebaiknya di diamkan dahulu dalam suatu ruangan selama 2-3 hari agar beradaptasi dengan lingkungan barunya sambil tetap di beri makan dengan sering dipanggil namanya. Jika sudah terbiasa, secara otomatis si owl akan merespon ketika dipanggil namanya.

Adaptasi (kaskus.co.id) - Jika langkah diatas sukses, bisa dilanjutkan ke langkah Training yang pertama. Yaitu dengan melatihnya FOF (Feed On Fist) atau makan diatas tangan. Pada langkah ini, biasakan dahulu si burung hantu agar mau “nangkring” ditangan anda. Setelah terbiasa, beri dia makan diatas tangan anda sambil terus dipanggil-panggil namanya serta sering-sering diajak ngobrol agar burung hantu anda terbiasa dan tidak takut dengan anda. Ulangi langkah ini sampai burung hantu terbiasa dan tidak sungkan lagi makan diatas tangan anda.
![]() |
| FOF (sciencedaily.com) |
- Langkah kedua yaitu melatihnya unuk JTTF (Jump To The Fist)
atau lompat ke tangan. Langkah
ini bisa dilakukan dengan menaruh burung hantu di tempat yang agak tinggi
seperti diatas meja atau di senderan kursi atau mungkin Perch/tangkringannya, kemudian anda menaruh pakan di tangan anda. Panggil nama burung hantu anda dan biarkan hingga si burung hantu melompat ke tangan anda, ulangi
lagi hingga latihan JTTF ini benar-benar dikuasai burung hantu anda. Jika
langkah kedua dalam melatih burung hantu ini sudah berhasil dan burung hantu
tidak lagi sungkan untuk menghampiri pakannya, anda bisa lanjutkan ke cara
melatih burung hantu yang ketiga.

JTTF (jpjweblog.blogspot.com)
- Langkah selanjutnya adalah melatih burung hantu FTTF (FlyTo The Fist) atau terbang ke tangan anda ketika dipanggil. Pertama-tama taruh atau tenggerkan burung hantu anda di tempat yang agak tinggi seperti senderan kursi atau meja, lalu buat jarak kira-kira satu setengah meter dari tempat burung hantu tersebut. Taruh makanan burung hantu di telapak tangan anda dan tunjukkan kepada burung hantu tersebut dan jangan lupa untuk memanggil namanya, tunggu hingga burung hantu tersebut terbang ke arah anda, hinggap di tangan anda, dan menyambar makanan di tangan anda,jangan lupa gunakan tali panjang sebagai pengaman agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti burung escape/kabur. Lakukan hal tersebut berulang-ulang hingga burung hantu tersebut terbiasa. Kemudian ulangi hal diatas dengan jarak yang lebih jauh, 2,5 meter atau 3,5 meter, dan lakukan terus hingga burung hantu tersebut tidak sungkan dan tidak takut lagi. Ulangi langkah tersebut terus menerus dengan jarak yang terus bertambah hingga akhirnya burung hantu anda bisa nyaman dan percaya dengan anda.
![]() |
| FTTF (hawk-conservancy.org) |
- Langkah terakhir
adalah melatihnya FF (Free Fly) atau terbang bebas. Perlu saya ingatkan burung
hantu yang hendak dilatih
free flight haruslah benar-benar telah melewati langkah-langkah latihan burung hantu sebelumnya dengan lancar dan sudah sangat percaya pada
owner nya. Burung hantu yang dilatih free flight sudah menganggap pemiliknya
sebagai sahabat, sebagai partner, bukan sebagai pemilik, bukan sebagai owner, karena pada langkah ini burung sudah
tidak menggunakan tali pengaman lagi yang digunakan pada langkah sebelumnya.
Latihan free fly bisa
dilakukan di lapangan luas. Anda bisa mengajak teman untuk latihan ini. Caranya
adalah dengan menempatkan burung hantu di ujung lapangan dan anda berdiri di
ujung lain dalam jarak kira-kira 30 meter. Panggil burung hantu anda dengan
menggunakan peluit atau dipanggil namanya, bisa juga dipancing dengan makanan
kesukaan. Jika burung hantu anda terbang menghampiri anda, berarti latihan free
fly ini berhasil dilakukan.
Sekilas, latihan free flight memang mirip latihan burung hantu yang sebelumnya,
yaitu fly to the fist.
Bedanya latihan free flight dan latihan fly to the fist pada burung hantu
adalah jarak dan tingkat kepatuhan burung hantu tersebut. Oleh karena itu, penting untuk melakukan
latihan fly to the fist dulu sebelum latihan free fly dilakukan.

FF (talon-falconry.co.uk)
Diadaptasi
dari : http://jual-beli-hewan-peliharaan.blogspot.co.id/
Tahapan cara melatih Burung Hantu
Berikut ini adalah istilah Internasional dalam dunia pecinta Burung hantu atau burung pemangsa (BOP) lain :
-Equipment/perlengkapan khusus :
- Perch : Tempat tangkringan / tenggeran untuk burung hantu.
![]() |
| Bow Perch |
![]() |
| Block Perch https://awfalconry.com |
- Anklet: Tali yang terbuat dari kulit untuk mengikat kaki burung hantu, semacam gelang untuk kakinya.
- Jesse: Tali pendek dari kulit yang bisa dihubungkan dengan anklet.
- Swivel: Perangkat dari logam yang memiliki poros berputar, yang memungkinan tali yang diikat pada kakinya tidak terbelit.
- Leash : Tali setelah Swivel yang digunakan untuk mengikat burung hantu saat berada di perch.
- Hook : Perangkat dari logam setelah leash yang dikaitkan ke pangkal perch sebagai pengaman agar burung tidak escape/kabur
![]() |
| https://awfalconry.com |
- Lure : Perlengkapan berbentuk seperti burung (flying lure) dan kelinci/tupai (ground lure) yang digunakan untuk melatihnya berburu.
![]() |
| Flying Lure https://northwoodsfalconry.com |
![]() |
| Ground Lure https://apfalconry.proboards.com |
- Hawk/Owl box (Giant Hood) : Kotak kayu untuk membawa burung hantu/BOP lain saat akan bepergian.
![]() |
| https://apfalconry.proboards.com |
- Glove : Sarung tangan khusus yang terbuat dari kulit unuk menghindari luka karena tajamanya cakar burung hantu
![]() |
| https://awfalconry.com |
![]() |
| https://123rf.com |
-Umur :
- Chick : Anakan burung yang masih memiliki bulu seperti kapas.
- Brancher : Burung hantu muda yang sudah berbulu lengkap, tetapi belum mampu terbang.
- Juvenile : Burung hantu muda yang sudah mampu berburu sendiri.
- Mature : Burung hantu yang sudah berusia tua, biasanya sudah agak susah untuk dilatih
![]() |
| https://barnowltrust.org.uk |
-Skill :
![]() |
- FOF : Feed on Fist (memberi makan di atas tangan).
- JTTF : Jump to the Fist (melatih burung lompat ke tangan).
- FTFF : Fly to the fist (melatih burung terbang ke tangan).
- FF : Free fly (melatih burung terbang bebas).
- Batting (burung menjauh / terbang / loncat ketika didekati).
Itulah beberapa Istilah dalam dunia BOP/Burung Pemangsa Semoga Membantu dan Bermanfaat. Salam Nokturnal :)
Diadaptasi dari:
Istilah dalam dunia BOP/Burung Pemangsa
Sekarang banyak kita jumpai Burung Hantu
yang dijual di Online Shop ataupun Pasar Hewan. Dari ukuran kecil sampai jenis
burung hantu yang berukuran besar. Tidak ada yang melarang anda untuk
membelinya karena uang yang digunakan itu uang anda sendiri.
Tapi sebelum membeli,
ada baiknya dipikirkan dahulu beberapa hal berikut sebelum "keluhan"
datang terlambat.
1. Uang
Uang disini sangat penting, karena untuk perawatan burung hantu cukup membutuhkan banyak uang. Burung hantu adalah karnivor yang setiap hari butuh makan. Sebagai contoh, jenis Barn Owl (Tyto Alba). Dalam sehari, jenis ini biasanya bisa makan sampai 4 ekor anak ayam yang harga rata-rata seekor anak ayam kisaran Rp.3.000,-. Dengan begitu dalam sebulan anda harus menyisihkan uang sebesar Rp.360.000. Belum lagi anda membutuhkan equipment yang lain seperti :
1. Uang
Uang disini sangat penting, karena untuk perawatan burung hantu cukup membutuhkan banyak uang. Burung hantu adalah karnivor yang setiap hari butuh makan. Sebagai contoh, jenis Barn Owl (Tyto Alba). Dalam sehari, jenis ini biasanya bisa makan sampai 4 ekor anak ayam yang harga rata-rata seekor anak ayam kisaran Rp.3.000,-. Dengan begitu dalam sebulan anda harus menyisihkan uang sebesar Rp.360.000. Belum lagi anda membutuhkan equipment yang lain seperti :
-Glove yang harganya berkisar Rp.200.000-Rp.400.000
-Anklet-Jesse Rp.100.000-Rp.200.000
-Whistle/peluit untuk melatih Rp.70.000-Rp.100.000
-Tali creance/prusik untuk latihan fttf permeter Rp.3.000
(Tergantung jarak skill)
-Box (untuk membawa partner bepergian) Rp.120.000-Rp.350.000
Cukup fantastis bukan? Padahal itu belum mencakup
keseluruhan.
2. Waktu
Dibutuhkan waktu khusus untuk PDKT dengan partner (manning time), ada beberapa pendapat tentang waktu yang baik untuk PDKT. Yaitu Malam ketika sang Burung Hantu aktif dan itu waktu anda untuk tidur, ataupun siang saat Burung Hantu “ngantuk” dan itu waktu anda bekerja. Namun menurut pengalaman pribadi, waktu yang baik adalah Malam hari ketika si Burung Hantu aktif, dengan begitu kita tetap menjaga sifat alami mereka yang aktif dimalam hari (nokturnal)
3. Lingkungan
Sebaiknya dicek terlebih dahulu apakah keberadaan burung hantu kita akan mengganggu orang sekitar atau tidak,karena ciri khas dalam memelihara burung hantu yaitu cukup berisik, bau kotoran yang cukup “tercium”, dan aktivitas dimalam hari kita saat berinteraksi dengan burung hantu. Apakah itu semua akan mengganggu dan meresahkan orang sekitar anda?
2. Waktu
Dibutuhkan waktu khusus untuk PDKT dengan partner (manning time), ada beberapa pendapat tentang waktu yang baik untuk PDKT. Yaitu Malam ketika sang Burung Hantu aktif dan itu waktu anda untuk tidur, ataupun siang saat Burung Hantu “ngantuk” dan itu waktu anda bekerja. Namun menurut pengalaman pribadi, waktu yang baik adalah Malam hari ketika si Burung Hantu aktif, dengan begitu kita tetap menjaga sifat alami mereka yang aktif dimalam hari (nokturnal)
3. Lingkungan
Sebaiknya dicek terlebih dahulu apakah keberadaan burung hantu kita akan mengganggu orang sekitar atau tidak,karena ciri khas dalam memelihara burung hantu yaitu cukup berisik, bau kotoran yang cukup “tercium”, dan aktivitas dimalam hari kita saat berinteraksi dengan burung hantu. Apakah itu semua akan mengganggu dan meresahkan orang sekitar anda?
4. Kebersihan kotoran
Pikirkan dahulu apakah anda sanggup untuk membersihkan kotoran, rontokan bulu, dan sisa² pakan yang burung hantu makan setiap hari ??
Ya! karena jika tidak dibersihkan setiap hari baunya cukup mengganggu kita ataupun lingkungan disekitar kita.
5. Cek acara atau jadwal pribadi
Silakan dicek jadwal kita masing² kedepan, seperti :
(a) Sebentar lagi lebaran, owl mau ditaruh mana? Dititipkan siapa? Bisa dibawa mudik tidak?
(b) Bulan depan jadwal kuliah padat. Yang kasih makan siapa? Harus manning time dimalam hari dengan si burung hantu padahal besok kuliah jam 7.
(C) Kerja lembur terus, besok jadwal kerja rubah, banyak masuk malamnya, acara padat sampai beli pakan owl saja tidak bisa karena begitu sibuknya, dan lain sebagainya.
6.Ketersediaan pakan
Coba dipelajari jenis burung hantu yang dihandle itu pakannya apa saja, jika sudah paham akan pakannya,coba cek ada tidak yang jual pakannya. Karena disini kaitannya ketersediaan pakan harian si owl.
Percuma kita punya uang, tapi tidak ada yg jual pakan?
Itu beberapa hal agar "keluhan" tidak datang dikemudian hari. Sebenarnya masih banyak yang harus dimengerti lainnya.
Misalnya : Apakah mengganggu burung kicauan tidak,bagaimana kalau makan ayam tetangga,kalau pakan jenis A tdk ada boleh tidak dikasih tahu,voer ayam,dll.
Tapi semuanya dikembalikan ke diri masing-masing.
Ini sedikit tulisan dari saya, mungkin pendapat orang lain berbeda dari saya.
Dan ini hanya sebagian kecil ketika hendak memelihara Burung Hantu. Masih banyak hal lain yang juga perlu diperhatikan selain hal diatas. 6 hal diatas adalah alasan yang sering dijadikan "keluhan" saat memelihara Burung Hantu.
Diadaptasi dari :
Hal yang harus diperhatikan sebelum memelihara Owl
Burung hantu adalah
kelompok burung yang merupakan anggota ordo Strigiformes. Burung ini
termasuk golongan burung pemangsa (karnivora, pemakan daging) dan merupakan
hewan malam (nokturnal). Seluruhnya, terdapat sekitar 222 spesies yang telah
diketahui, yang menyebar di seluruh dunia kecuali Antartika, sebagian
besar Greenland, dan beberapa pulau-pulau terpencil.
Burung hantu dikenal karena matanya
besar dan menghadap ke depan, tak seperti umumnya jenis burung lain yang
matanya menghadap ke samping. Bersama paruh yang bengkok tajam seperti
paruh elang dan susunan bulu di kepala yang membentuk lingkaran
wajah, tampilan "wajah" burung hantu ini demikian mengesankan dan
kadang-kadang menyeramkan. Apalagi leher burung ini demikian lentur
sehingga wajahnya dapat berputar 180 derajat ke belakang.
Umumnya burung hantu berbulu burik,
kecoklatan atau abu-abu dengan bercak-bercak hitam dan putih. Dipadukan dengan
perilakunya yang kerap mematung dan tidak banyak bergerak, menjadikan burung
ini tidak mudah kelihatan; begitu pun ketika tidur di siang hari di bawah
lindungan daun-daun.
Ekor burung hantu umumnya pendek, namun
sayapnya besar dan lebar. Rentang sayapnya mencapai sekitar tiga kali panjang
tubuhnya.
Kebanyakan jenis burung hantu berburu di
malam hari, meski sebagiannya berburu ketika hari remang-remang di waktu subuh
dan sore (krepuskular) dan ada pula beberapa yang berburu di siang
hari. Mata yang menghadap ke depan, sehingga memungkinkan mengukur jarak
dengan tepat; paruh yang kuat dan tajam; kaki yang cekatan dan mampu
mencengkeram dengan kuat; dan kemampuan terbang tanpa berisik, merupakan modal
dasar bagi kemampuan berburu dalam gelapnya malam.
Ragam Jenis Burung Hantu
Ordo Strigiformes terdiri dari dua suku (familia), yakni
suku burung serak atau burung hantu gudang (Tytonidae) dan suku burung hantu
sejati (Strigidae). Banyak dari jenis-jenis burung hantu ini yang merupakan
jenis endemik (menyebar terbatas di satu pulau atau satu wilayah saja) di
Indonesia, terutama dari marga Tyto, Otus, dan Ninox.
Contoh Suku Tytonidae :
Barn Owl (Tyto alba)
|
||
Oriental Bay Owl (Phodilus badius)
|
||
Contoh Suku Strigidae :
Celepuk (Otus Sp.)
|
||
Beluk Ketupa (Ketupa ketupu)
|
||
Beluk Jampuk (Bubo Sumatranus)
|
||























